Hari ke 24 Usai berdo’a sholat subuh tadi, saya masih duduk di atas sajadah dan melamun. Tabiat itu membuat istri saya tersebut bertanya kenapa saya melamun?. Hal seperti itu bukanlah menjadi kebiasaan saya. Biasanya setelah usai sholat, berdo’a dan bersalaman dengan istri, saya langsung ke ruang depan untuk membaca Al Qur’an. Ada satu hal membuat saya melamun dan dalam lamunan itu saya memohon sesuatu kepada Allah. Apakah itu?
Sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan masa hamba-hamba Allah mencari kemuliaan. Di dalam 10 hari terakhir Ramadhan terdapat satu malam yang mulia, yaitu malam Lailatul Qadar. Seperti yang di firmankan Allah dalam surat Al Qard. Pada tulisan ini saya tidak ingin menjelaskan panjang lebar apa itu malam Lailatul Qadar atau bagaimana mendapatkan malam seribu bulan itu.
Saya teringat ketika saya masih single dulu. Malam Lailatul Qadar bukan menjadi prioritas utama saya. Sepuluh hari terakhir berarti sudah begitu dekat dengan Lebaran. Baju baru, sepatu baru, pokoknya yang baru-baru, itu yang menjadi prioritas. Dan yang paling ditunggu-tunggu adalah uang lebaran atau THR. Apalagi sepuluh hari terakhir itu dimulainya acara berbelanja dan membeli kue-kue lebaran. Kebayangkan? Betapa lezatnya kue lebaran. Siapa sih yang tidak meneteskan iler melihat kue-kue yang lezat.
Bagaimana dengan sekarang? Kalau sekarang saya akan merasa rugi sekali bila menyianyiakan 10 hari terakhir Ramadhan hanya dengan bersenang dan berfoya karena dapat THR atau menunggu saudara datang dr luar kota, atau perjalanan keluar kota tuk berkunjung ke saudara dan orang tua. Dan inilah yang membuat saya melamun usai sholat subuh. berharap bisa terus melaksanakan ibadah puasa 10 hari terahir dengan lebih ikhlas dan lebih khusyuk. Saya sudah berniat untuk mengencangkan sarung dan mengajak istri tuk jadi Makmum, dan menghidupkan malam pada 10 hari terakhir.
Doa ini selalu kupanjatkan :
Wahai Yang Mengeluarkan siang dari malam ketika kami berada dalam kegelapan, Yang Mengedarkan matahari di tempat peredarannya dengan ketentuan-Mu. Wahai Yang Maha Mulia, wahai Yang Maha Mengetahui, Yang Menentukan bulan berada pada manazil-manazilnya sampai kembali seperti dandan yang tua. Wahai Cahaya dari semua cahaya, Puncak semua harapan, Pemilik semua kenikmatan. Ya Allah, wahai Yang Maha Pengasih. Ya Allah, wahai Yang Maha Suci, wahai Yang Maha Esa, wahai Yang Maha Tunggal. Ya Allah, ya Allah, ya Allah.
Bagi-Mu Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), perumpamaan yang tinggi, semua keagungan dan karunia. Aku memohon kepada-Mu sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad. Jadikan namaku malam ini berada dalam golongan orang-orang yang bahagia, ruhku bersama para syuhada’, kebaikanku dalam golongan orang-orang yang mulia, dan kejelekanku diampuni. Karuniakan padaku keyakinan yang menyejukkan hatiku, keimanan yang menghilangkan keraguan dariku. Jadikan aku ridha pada apa yang Kau bagikan padaku. Berikan pada kami kebaikan di dunia dan akhirat. Selamatkan kami dari azab neraka yang membakar. Karuniakan padaku di dalamnya zikir-Mu, bersyukur pada-Mu, harapan pada-Mu, kembali dan bertaubat pada-Mu, serta bimbingan seperti Engkau membimbing Muhammad dan keluarga Muhammad, semoga salam senantiasa tercurahkan kepada mereka
Salam Sayang tuk istriku yang selalu menemani aku dalam setiap langkah tuk dekat denganNYA
15 September 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)



